Saturday, February 8, 2014


13_28
“…ketahuilah dengan “zikrullah” itu, tenang tenteramlah hati manusia” [al-Ra'd 13: 28]

surah Yassin ayat 38 yang bermaksud, “dan matahari berjalan di tempat peredarannya. Demikianlah ketetapan Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui.”

Di dalam kita berzikir sebenarnya kita juga berfikir, fakta ini juga membuktikan bahawa Islam tidak pernah memisahkan manusia khususnya penganutnya dari Zikir dan Fikir. Malahan meraikan kedua-duanya, kerana kedua-duanya sangat diperlukan dalam membina sisitem kehidupan yang sejahtera dan bertamadun. Buktinya, Allah berkata dalam surah al-Imran ayat 191 yang bermaksud, “(Iaitu) orang-orang yang menyebut dan mengingati Allah (Zikir) semasa mereka berdiri dan duduk dan semasa mereka berbaring mengiring dan mereka pula memikirkan (fikir) tentang kejadian langit dan bumi (sambil berkata): Wahai Tuhan kami! Tidaklah Engkau menjadikan benda-benda ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari azab Neraka.”

Di antara redaksi bahasa Al-Quran, “afala tatafakkarun”, “afala tafaqqahun”, afala yatadabbarun”, Afala tasy’urun” dan sebagainya. Kendati pun banyak redaksi yang digunakan Al-Quran namun pada substansinya sama yaitu menuntut supaya berfikir, memahami, merenung, dan menganalisa. Oleh sebab itu, aktivitas kegiatan berfikir menjadi suatu hal yang cukup urgens dalam Islam.

dalam Islam seorang mukmin tidak hanya dituntut dalam mengenal tuhan, alam dan termasuk dirinya sendiri hanya melalui dengan berfikir. Ada satu lagi cara yang tujuannya untuk mendekatkan diri dan lebih dekat kepada pencipta seluruh alam semesta dengan melalui berzikir.

Dalam pengertian sempit zikir dimaknakan dengan kegiatan mengucapkan nama-nama Allah yang agung dan mulia dalam rangka memuji dan membesarkannya. Memang cukup disayangkan, kebanyakan masyarakat masih terjebak dengan pemahaman dan pengertian konvensional seperti demikian. Namun dalam pengertian yang lebih luas lagi zikir adalah seluruh aktivitas dan gerak memahami kekuasaan Allah yang tujuannya untuk lebih dekat dengan Allah. Oleh sebab itu, perintah berzikir tidak hanya pada saat shalat atau sesudahnya di mesjid, mushalla, dan sebagainya, tetapi dalam seluruh kondisi dan tempat selalu dituntut untuk tetap berzikir. Sebagaimana yang disinyalir Allah dalam Al-Quran surat al-Imran: 191” (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “ Ya Tuhan kami, tiadalah engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa mereka.(91)

2 comments:

Kakzakie said...

Terima kasih. Satu perkongsian macam ini sangat kakak suka. Muhasabah diri dan terasa betapa banyak perlu dididik rohani dlm mengharungi hidup yg sekejap di mukabumi ini.

Zikir bukan di bibir tapi seluruh aktiviti kehidupan tak kita sedar (kakaklah ni).

Hanis Azla said...

As-salam mamawana..

Alhamdulillah.. perkongsian yg baik untuk memperbaiki diri.. terima kasih kak..

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...