Tuesday, May 4, 2010

Sudahkah Menggilap Hati?

Petikan dari Email utk perkongsian Ilmu
Rahasia Iman
Oleh: Dr. Amir Faishol Fath
_______________________________
dakwatuna.com – Dalam Al-Qur’an, Allah swt. selalu menegaskan tentang
iman. Bahkan panggilan identitas hamba-hamba-Nya disebut dengan:
almu’minuun, atau alladziina aamanuu. Iman secara bahasa artinya
percaya. Dari percaya muncul sikap atau perbuatan. Seorang pasien yang
percaya kepada dokternya, ia akan patuh ikut apa kata dokter. Ketika
dokter memutuskan: ”Anda kena penyakit kanker, ia langsung percaya.
Lalu ketika dokter memutuskan: Anda harus diopreasi,” Ia langsung siap
berapapun harus membayar biaya. Obat-obatan dari dokter diminum sesuai
dengan aturan yang ditentukan, ada yang tiga kali atau dua kali sehari
dan lain sebagainya. Semua itu dipatuhi dengan sungguh-sungguh. Bahkan
pantangan makanan yang dilarang oleh dokter pun dijauhi, seenak apapun
makanan tersebut, ia berusaha menghindar semaksimal mungkin.

Pernah seorang pasien penderita diabet, ditawarin makanan kue yang
sangat enak dan lezat. Seketika ia berkata, kata pak dokter ini tidak
boleh saya makan. Perhatikan sungguh tidak sedikit manusia yang sangat
patuh kepada dokter, tetapi kepada Allah tidak demikian. Padahal Allah
jauh lebih luas pengetahuan-Nya dari pada seorang dokter.

”Percaya” adalah kekuatan untuk patuh, seperti patuhnya seorang pasien
yang sangat percaya kepada sang dokter. Percaya dalam Islam disebut
iman. Iman harus berkaitan dengan yang ghaib. Sebab ia merupakan
kebutuhan ruhani. Karenanya di pembukaan surah Al-Baqarah:3, Allah
berfirman: ”Alladziina yu’minuuna bilghaibi (yaitu orang-orang yang
beriman kepada yang ghaib).” Berdasarkan ayat ini maka iman itu harus
berkaitan kepada yang ghaib. Seperti beriman kepada Allah, para
malaikat dan wahyu yang turun kepada para rasul, itu semua adalah
ghaib. Dan ternyata ini adalah kebutuhan fitrah manusia. Inilah makna
fithrah yang Allah firmankan:

”Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah); (tetaplah
atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu.
Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus;
tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (30:30)

Jadi pada dasar penciptaannya manusia telah dibekali iman. Dalam surah
Al-A’raf: 72, Allah berfirman:
Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu
mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah
mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah
Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuhan kami), kami
menjadi saksi”. (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat
kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah
orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan).”

Inilah persaksian setiap janin, ketika masih dalam rahim ibunya, ia
telah dengan jujur mengakui keimanannya kepada Allah. Inilah makna
hadits Nabi saw. Yang sangat terkenal:

“Kullu mawluudin yuuladu ‘alal
fithrah (setiap bayi yang baru lahir, ia lahir dalam keadaan fitrah
(maksdunya beriman kepada Allah swt).”

Sayangnya kemudian bahwa materialisme telah menyeret manusia untuk
hanya menekuni kebutuhan fisiknya. Akibatnya mereka selalu sibuk
dengan hal-hal yang berupa benda. Bahkan yang lebih parah mereka
berusaha untuk membendakan yang ghaib. Itulah asal-muasal munculnya
matahari, patung, pohon besar dan lainya dianggap sebagai tuhan.
Mereka merasa kurang puas kalau tuhan yang mereka sembah tidak nampak.
Padahal tabiat iman harus selalu berkaitan dengan yang ghaib. Maka
selama kecendrungan materialistik tetap menguasai dan diutamakan di
atas segalanya, otomatis keimanan akan terkesampingkan. Dan mereka
tidak akan pernah merasakan nikmatnya iman. Dari sinilah kekeringan
ruhani terjadi.

Semua orang sebenarnya ingin bahagia. Tetapi banyak dari mereka yang
tidak menemukan kebahagiaan itu. Ada yang mengejar kebahgiaan di balik
hiburan dan kemegahan. Bahkan banyak juga yang sampai tercebur dalam
dosa-dosa. Namun ternyata kebahagiaan tidak juga didapatkan. Banyak
orang mengalami stress dan depressi justru di saat telah mencapai
puncak keberhasilan secara keduniaan. Di sini jawabannya adalah iman.
Bahwa hanya iman yang akan mengisi kekeringan ruhani mereka. Caranya
patuhi Allah dengan sesungguh-sungguhnya. Bukan sekedar basa-basi atau
pura-pura atau setengah hati. Bila mereka patuh kepada dokter atau
bos dengan sungguh-sungguh, maka patuhlah kepada Allah di atas semua
itu.

Yang banyak terjadi adalah bahwa Allah sering dikesampingkan. Shalat
diabaikan karena rapat dan lain sebagainya.
Seharusnya seorang muslim
waktunya diseting oleh shalat, bukan dia yang menseting shalat.

Demikianlah Rasulullah dan sahabat-sahabatnya mencontohkan hal ini.
Maka selama kepatuhan kepada Allah dianggap sampingan, iman tidak akan
pernah berdaya. Dan akibatnya kebahagiaan hakiki tidak bisa dicapai.
Sebaliknya ketika keimanan benar-benar menggelora, lalu dibuktikan
dengan kepatuhan yang jujur dan maksimal kepada Allah, maka
kebahagiaan akan tercapai
.
Wallahu a’lam bishshowab.

Edmonton Kanada, 12 April 2010.

http://www.dakwatuna.com/2010/rahasia-iman/
**************************************************************************
Sudahkah Menggilap Hati?

Lalu aku pun berfikir...
Sudah tertunaikah solat dhuha di pagi ini?
Sudah berapa helai kitabullah yg di selak pagi ini...?
Sudah bersedekah beberapa pitih hari ini..?
Sudahkah menghadiahkan wajah2 senyum kepada sahabat2 hari ini..?
Sudah siapkah tanggungjawab buat keluargamu pagi ini..?
Sudahkah...?
Sudahkah...?
Ayuh..usahakan diri menggilap hati
Lalu aku bangun meninggalkan PC.?

9 comments:

♥♥azatiesayang ♥♥ said...

salam mamawana..sonok bc ttg mengilap hati nie....sihat yer mamawana?

maiyah said...

salam.. dpt ilmu lagi..

mamawana said...

Salam caiyang azatiesayang..

Sihat sihat alhamdulillah. selsema sesikit tu biasalah...semoga azatie pun sihat ceria sokmo

salam caiyang maiyah..

Sesama kita berkongsi ilmu .. :-)

khairyn said...

Salam mamawana

Bagus betul aturan Allah. Disaat hati sedang gelisah dengan peperiksaan yang bakal menjelma, ada pula sahabat yang memberi ingatan. Terim kasih. :D

mamawana said...

Salam caiyang buat Khairyn...sudi singgah :-)

Kamsiah said...

saling ingat mengingatkan...kita sering terlupa dan terleka...

mamawana said...

Salam caiyang Kamsiah

Lumrah manusia mudah terleka dgn nikmat dunia....Sama2 ingat mengingati ya caiyang..

noorlara said...

Terkesima japs, kalu selalu membaca artikel begini bisa mengobat hati yg sakit!

mamawana said...

Salam caiyang noorlara...

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...